• (022) 251 6778
  • [email protected]
  • Jl. Ligar Taqwa No. 2 Komp. Bukit Ligar, Bandung
  • Article

    Berdamai Dengan Susah Ingat Gampang Lupa

    Susah ingat dan gampang lupa terhadap informasi yang diberikan selama pembelajaran sepertinya sudah menjadi salah satu masalah yang sering kita temui baik pada anak-anak secara umum maupun pada anak-anak yang mengalami hambatan belajar.

    Kesulitan mengingat, sebagaimana ditulis pada salah satu artikel di www. Teachersvision.com, dapat disebabkan oleh berbagai faktor, Namun pada dasarnya kesalahan penempatan informasi merupakan  salah satu faktor utama penyebab sulitnya informasi itu diingat atau dimunculkan kembali secara efektif ketika dibutuhkan.

    Pada artikel yang berjudul enhancing memory tersebut dijelaskan bahwa ada beberapa kondisi yang bisa membantu seseorang untuk menyimpan informasi dan memanggilnya kembali secara lebih baik, yaitu:

    • Ketika Informasi baru secara arti terhubung dengan informasi yang sudah ada sebelumnya. Sebagai contoh, mengkorelasikan kata “kursi” dengan kata “meja” akan lebih bertahan pada ingatan jangka panjang dibanding ketika kita mengkorelasikan “kursi” dengan “Dasi” yang sebetulnya memiliki rima dan memiliki beberapa kesamaan huruf.
    • Ketika melibatkan emosi atau makna secara personal.  Pada konteks ini, memberikan pembelajaran yang berbasis konten personal seperti jurnal, menulis kreatif, atau memilih literatur favorit akan jauh lebih meninggalkan kesan bagi siswa dan akan lebih mudah diingat.
    • Ketika informasi diberikan bersamaan dengan petunjuk yang bermakna agar lebih mudah diingat. Kita sering merasakan bahwa tes pilihan ganda lebih mudah dari essay bukan? Karena dalam pilihan ganda kita memperoleh semacam petunjuk yang bisa membantu kita mengingat informasi yang dibutuhkan. Meskipun tentunya untuk sebagian siswa, soal essay yang memerlukan tanggapan yang lebih luas justru memberikan struktur yang menstimulasi mereka untuk memberikan jawaban yang lebih terintegrasi.
    • Ketika informasi tersimpan berhubungan dengan kejadian atau pengalaman sebelumnya.  Bagi anak-anak yang notabene baru mengalami sedikit pengalaman tentang segala sesuatu, tentunya memberikan mereka kesempatan untuk lebih mengenal dunia melalui field trip, mendatangkan narasumber, atau hubungan nyata lainnya akan sangat dibutuhkan dalam memperkuat pembelajaran tekstual yang diberikan di kelas.

    Pada kenyataannya, mengajar anak dalam jumlah yang cukup banyak memang seringkali membatasi kemampuan kita untuk melayani kebutuhan setiap individu mereka secara khusus, oleh karenanya beberapa teknik mengajar di bawah ini dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa di kelas, dan berdamai dengan mereka yang mengalami keterbatasan daya ingat maupun atensi.

    Pertama, gunakan beberapa “kode” pembelajaran yang bisa memberikan petunjuk pada siswa bahwa sesuatu yang penting akan disampaikan.  Kedua, sedapat mungkin gunakan beragam  sarana multisensori.  Para pengajar di taman kanak-kanak sangat terbiasa untuk menyediakan pembelajaran dengan memberikan contoh benda-benda nyata untuk membantu pembelajaran anak-anak, namun pengajar di kelas yang lebih besar seringkali melupakan hal ini seiring dengan semakin abstraknya bahan ajar yang perlu mereka sampaikan,  Namun idealnya para pengajar di kelas besar tetap mengupayakan metode pengamatan multisensori sedemikian rupa dan tidak terjebak pada hanya metode ceramah atau diskusi saja.

    Ketiga, gunakan applied situational learning, atau metode pembelajaran terapan seperti bermain peran, simulasi, pengajaran unit (tematik integrasi), ataupun  proyek menulis kreatif agar tidak terbatas pada drill-drill yang hanya berfokus pada konten materi saja.  Metode pembelajaran terapan melibatkan minat dan makna personal bagi siswa sehingga diharapkan lebih bertahan dalam memori jangka panjang mereka.

    Keempat, gunakan visualisasi untuk memperkuat daya ingat siswa.  Cobalah memberikan instruksi seperti “Tutup mata kalian dan bayangkan …..”   lalu “bisakah kalian menggambarkan……….?” atau “bisakah kalian menceritakan tentang………….?”.  Kemampuan siswa dalam menyampaikan kembali informasi diharapkan dapat meningkat melalui proses penggambaran sesuatu, terutama bagi mereka yang memiliki kecerdasan visual.

    Terakhir, cobalah metode group response techniques, atau pelibatan secara kelompok dibanding hanya dengan memanggil beberapa orang tertentu saja dalam diskusi.  Gunakan arahan seperti “semua yang setuju silahkan angkat tangan kanan kalian” atau “ mari kita tunjuk bersama-sama bagian mana dalam buku cerita ini yang menceritakan bagaimana si detektif memecahkan misterinya”

    Demikian, semoga metode-metode yang sudah sering digunakan di CLS ini terus terjaga secara konsisten untuk pembelajaran siswa yang lebih bermakna.

    Disarikan dari : enhancing memory – www.teachervision.com

    Oleh : Sastri Sarimaya Ayudiah

    Tags

    Leave a comment