Article

School's Stories and Insights

Ramadan dan Literasi: Menguatkan Literasi Anak lewat Percakapan Bermakna

Bulan Ramadan sering kali diingat sebagai waktu menahan lapar dan dahaga. Namun bagi anak-anak, Ramadan sesungguhnya adalah bulan yang bisa menciptakan kebersamaan—saat keluarga sahur bersama di meja makan, berbuka puasa, dan menikmati waktu tanpa tergesa. Di momen-momen inilah literasi anak dapat diperkuat. Bukan lewat buku, tetapi melalui obrolan yang santai.

Di Cendekia Leadership School, literasi tidak dipahami hanya sebagai kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami, mengolah, dan menyampaikan makna. Ramadan memberi kesempatan besar bagi keluarga untuk menumbuhkan kemampuan ini melalui percakapan sederhana namun bermakna.

Agar Ramadan tidak hanya berkesan sebagai bulan ritual, berikut tiga hal penting yang dapat dibicarakan bersama anak untuk memperkuat literasi sekaligus kedekatan emosional dalam keluarga.

1. Membicarakan Pengalaman, Bukan Sekadar Memberi Nasihat

Pertanyaan seperti:

  • “Apa bagian paling sulit dari puasa hari ini?” 
  • “Ada momen yang membuatmu senang hari ini?” 

mendorong anak untuk mengingat, memilih kata, dan menyusun cerita. Di sinilah literasi bekerja: anak belajar mengelola pikiran dan mengekspresikan perasaan secara lisan. Di CLS, kemampuan bercerita dan merefleksi pengalaman adalah dasar berpikir kritis. Percakapan di meja sahur atau berbuka menjadi latihan literasi yang alami—tanpa tekanan, tanpa evaluasi.

2. Mengaitkan Nilai Ramadan dengan Kehidupan Nyata

Ramadan sarat nilai: menahan diri, empati, disiplin, dan kepedulian. Dan semua nilai itu akan lebih bermakna ketika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari anak.

Dialog dapat dibuka dengan:

  • “Menurut kamu, contoh menahan diri di sekolah itu apa?”
  • “Kalau melihat teman yang perlu bantuan, apa yang bisa kita lakukan?”

Percakapan ini melatih anak untuk menghubungkan konsep abstrak dengan konteks nyata—sebuah keterampilan literasi penting yang juga menjadi inti pembelajaran. Anak tidak hanya memahami nilai, tetapi belajar memaknainya.

3. Mendengarkan dengan Sungguh-Sungguh

Literasi tidak tumbuh dari banyaknya pertanyaan, tetapi dari ruang aman untuk berbicara. Ketika anak merasa didengar—tanpa disela, tanpa langsung dikoreksi—mereka belajar bahwa gagasan mereka bernilai.

Dalam dialog Ramadan, mendengarkan sama pentingnya dengan berbicara. Saat orang tua memberi waktu anak menyelesaikan ceritanya, anak sedang belajar menyusun argumen, memilih kata, dan percaya pada pikirannya sendiri.

Di CLS, komunikasi yang sehat selalu diawali dengan kesediaan untuk mendengar. Nilai ini dapat tumbuh kuat justru di ruang keluarga.

Ramadan sebagai Ruang Literasi Keluarga

Ramadan tidak harus diisi dengan target-target. Cukup dengan percakapan yang jujur, reflektif, dan penuh empati, keluarga telah membangun fondasi literasi yang kuat bagi anak.

Ketika sahur dan berbuka menjadi ruang dialog, anak tidak hanya belajar tentang puasa, tetapi juga tentang berpikir, memahami, dan menyampaikan makna. Inilah yang membuat Ramadan bukan sekadar berkesan sebagai bulan, tetapi juga sebagai pengalaman kebersamaan yang membentuk karakter.

Bagi Cendekia Leadership School, pendidikan terbaik selalu berawal dari rumah—dan Ramadan adalah momen yang tepat untuk menumbuhkannya bersama.